Didik : Saya Sudah Kangen Mengajar di Kelas

Didik Hartono (Nomer 4 dari Kanan) Bersama Guru dan Siswa di SMPN 2 Krian Sidoarjo
Didik Hartono (Nomer 4 dari Kanan) Bersama Guru dan Siswa di SMPN 2 Krian Sidoarjo

Suarapendidikan.com, Sidoarjo -Jemari Didik Hartono (43) tidak berhenti menekan huruf demi huruf yang tertera pada layar handphone androidnya.  Kata-kata demi kata Ia rangkai untuk membalas satu persatu ucapan selamat hari raya idul fitri dari siswa-siswinya, yang dikirimkan lewat WhatsApp (WA).

Meskipun hanya melalui aplikasi pesan, ucapan selamat berlebaran tersebut baginya sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindu pada murid-muridnya. “ Kalau dulu sebelum ada corona, anak-anak ya datang ke rumah untuk silaturahmi. Sekarang mereka hanya chat lewat WA saja,” tutur Didik.

Didik Hartono satu dari sekian puluh guru di SMPN 2 Krian Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. Bapak 5 anak tersebut, selama ini memang terkenal dekat dengan para siswa. Jabatannya sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menuntut dirinya untuk mengenal satu persatu anak didiknya.

“ Siswa mulai yang nakal sampai yang berprestasi saya tahu semua. Nggak bertemu mereka 2 bulan lebih ya kangen juga,” sambung Didik sambil tersenyum. 

Didik Hartono – Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 2 Krian Sidoarjo

Kerinduan Didik Hartono pada siswa-siswinya sangat beralasan. Pandemi Covid-19, telah memaksa proses belajar mengajar dilakukan secara daring. Meskipun tatap muka masih bisa dilakukan dengan medium Zoom, namun susana proses belajar mengajar di kelas secara langsung tetap tidak bisa tergantikan.

“ Kalau biasanya kan sebelum mengajar kita salaman dulu dengan siswa di depan kelas, kita bisa mengusap kepalanya, kalau ada yang ketahuan nggak pakai sabuk bisa kita cubit, sekarang kan sudah nggak bisa,” terang Didik yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Islam Khulafaur Rosyidin di Kecamatan Krian Sidorajo.

Menurutnya, sebuah proses pendidikan tidak hanya tertumpu pada pengajaran materi-materi pelajaran. Membangun kedekatan moral pada siswa, juga dirasa penting dan harus dilakukan oleh para pendidik, dan semua itu tidak bisa dilakukan saat pembelajaran jarak jauh seperti sekarang ini.

“ Bagaimana kita bisa ngobrol banyak dengan siswa, memperhatikan mereka satu persatu, atau tanya ada masalah apa, kalau bertemunya saja dibatasi dengan kuota,” kata Didik sambil tertawa.

Didik Hartono yang saat ini juga didapuk sebagai wakil PERGUNU di Krian Sidoarjo mengatakan, banyak hal yang harus dievaluasi dari sistem pembelajaran secara daring selama dua bulan lebih. Secara tekhnis, masih banyak murid yang tidak memiliki smartphone Android, kuota internet terbatas, dan kurangnya pendampingan dari orang tua.

Dari sisi pendidik, banyak yang belum terbiasa atau gagap menggunakan medium-medium komunikasi jarak jauh seperti zoom, dan kurangnya kecakapan guru dalam berkomunikasi secara virtual. 

“ Kalau Pandemi ini tidak berakhir, dan pembelajaran tetap seperti sekarang, ya mau tidak mau kami sebagai pendidik harus bisa cepat adaptasi. Apalagi sebentar lagi kita masuk new normal,” tegas Didik.

Kata Didik, memasuki era normal baru sekolah dan guru harus segera merubah pola dan sistem pembelajaran, sesuai dengan surat edaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). Mulai dari penerapan protokol kesehatan hingga penyelenggaraan pembelajaran secara bergiliran.

“ Intinya kami siap-siap saja, dan saya harap bisa segera diputuskan. Saya sudah kangen mengajar di kelas dan bertemu langsung sama mereka (red –murid), “ pungkas Didik sambil kembali membalas ucapan lebaran dari murid-muridnya melalui WhatsApp. (NR)