Keterjangkauan Pendidikan, Mematahkan Kemiskinan

Oleh : Muchamad Muchlas, S.Pt, M.Pt

Kandidat Doktor Animal Science and Bio-Industry, Chonnam National University, Korea Selatan

Suarapendidikan.com – Hidup itu unik karena sesungguhnya kita tidak dapat memilih dari rahim mana kita akan lahir. Sebagian golongan manusia memiliki keberuntungan (Previlage) dapat hidup dengan lingkungan yang suportif yang mampu memberikan fasilitas dan kasih sayang untuk meraih impiannya, namun tidak sedikit juga yang harus hidup dengan keadaan yang serba terbatas yang akhirnya harus bersikap skeptis dan berdamai dengan hidup. Golongan masyarakat yang tidak beruntung tersebut akhirnya memiliki mental kemiskinan kultural sebagaimana faham jabariyah, yaitu munculnya justifikasi jika miskin adalah takdir, menganggap miskin sebagai nasib dan berakhir dengan kepasrahan garis hidup sehingga tumbuhnya fatalisme kronis dalam masyarakat. Paradigma ini menjadi lingkaran setan yang sangat berbahaya yang bisa kita sebut dengan kemiskinan yang di wariskan.

Berdasarkan laporan penelitian dari Cape Peninsula University of Technology dan WI Ukpere dari University of Johannesburg, dengan paper berjudul “Poverty as a Transient Reality in a Globalised World: an Economic Choice” menyimpulkan kemiskinan adalah monster yang sangat menakutkan yang dihadapi manusia. Bahaya dampak kemiskinan di perjelas dengan melihat paparan dari laporan situasi Anak di Indonesia dari UNICEF pada tahun 2020 dengan angka kematian bayi yang tertinggi ada pada 20 persen populasi termiskin dan tiga kali lebih besar dibandingkan 20 persen populasi terkaya. Kelaparan dan malnutrisi adalah penyebab utama kematian dan kesakitan, yang mengakibatkan beban masyarakat dan beban ekonomi yang tinggi. Kenyataan pahit tersebutlah alasan besar kemiskinan harus kita lawan.

Mengutip ungkapkan populer Nelson Mandela; Education is the most powerful weapon which you can use to change the world (pendidikan adalah senjata paling hebat yang kamu dapat gunakan untuk mengubah dunia). Pendidikan adalah senjata terbaik melawan kemiskinan karena pada dasarnya golongan masyarakat miskin terjadi bukan karena kemalasan semata namun karena mereka tidak mampu memanfaatkan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi golongan masyarakat tersebut. Alasan tersebut jugalah mengapa pemerintah Indonesia dibawah pemerintahan ke-2 Joko Widodo memiliki taqline “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Presiden Joko widodo menjelaskankan dalam pidatonya “Manusia Indonesia yang lahir dan tumbuh dalam kondisi kesehatan yang baik, mendapatkan pendidikan yang berkualitas, dan memiliki karakter kuat berlandaskan Pancasila, sehingga siap bersaing di tengah situasi global yang makin kompetitif.”

Meminjam  konsep atau pandangan Pak Muhamad Nuh menteri Pendidikan era presiden SBY yang juga merupakan penggagas beasiswa Bidik misi. Beasiswa Bidik misi memberikan kesempatan ratusan ribu anak-anak kurang beruntung secara ekonomi, mendapatkan peluang menjadi mahasiswa di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Beasiswa Bidikmisi bukan sekadar membantu anak agar dapat kuliah di perguruan tinggi namun lahir dengan visi membangun Indonesia dengan memberikan akses keterjangkauan pendidikan dan bukan malah meninggalkan. Beasiswa akan menjadi alat penjamin mimpi dan cita pada generasi penerus yang secara ekonomi belum beruntung tetapi memiliki potensi berkembang. Akses ke sebuah pendidikan tinggi adalah platform yang ampuh untuk menangkal tumbuhnya disparitas sosial. Pendidikan membuat manusia tidak saja diupayakan agar menjadi sehat, cerdas, dan terampil, tetapi juga supaya menjadi baik atau berkarakter. Menjadi penerima beasiswa harus mampu memanfaatkan kesempatan meraih pendidikan tinggi untuk banyak belajar. Mari menjadi generasi yang kuat akal, hati dan ruh sehingga jika menjadi kaum terdidik kelak mampu menjadi generasi pembangun bangsa dan bukan malah menjadi generasi yang menggunakan akalnya untuk akal-akalan, atau mengakali orang lain.

Penulis juga menyampaikan jika ada keinginan yang kuat dan semangat tinggi pasti kita dapat keluar dari zona lingkaran kemiskinan. Mari kita bersyukur saat ini dengan adanya banyak kesempatan beasiswa untuk kalangan ekonomi lemah seperti KIP Kuliah atau LPDP sehingga meraih pendidikan tinggi bukan lagi sebuah mimpi. Sudah tidak ada lagi jurang antara si kaya dan si miskin untuk meraih cita cita. Penulis pun awalnya berasal dari keluarga pra-sejahterah dengan orang tua bekerja sebagai buruh tani dan saat ini merupakan calon kandidat doktoral (S-3) Chonnam national University, Korea Selatan dengan Beasiswa GKS Pemerintah Korea Selatan tahun 2020. Penulis juga merupakan ex-manager peternakan sapi perah di Selandia baru tahun 2015-2018, Penerima Beasiswa LPDP untuk Jenjang Master (S-2) dan Penerima Beasiswa Bidik Misi untuk jenjang sarjana (S-1). (NR)