Luncurkan Program Guru Belajar, Kemendikbud Bantu Guru Laksanakan Pembelajaran Jarak Jauh

Suarapendidikan.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) meluncurkan Program “Guru Belajar Seri Masa Pandemi COVID-19” pada Senin (28/9), secara virtual. Program Guru Belajar seluruhnya akan dilaksanakan secara daring (online) dan terdiri dari tiga tahap yaitu Bimbingan Teknis, Pendidikan dan Latihan, serta Pengimbasan.

Program yang akan dilaksanakan mulai 1 – 19 Desember 2020 terbagi dalam beberapa tahap kegiatan yaitu bimtek, diklat dan pengimbasan. Sebanyak lima angkatan akan mengikuti bimtek, selanjutnya panitia akan menyeleksi peserta untuk mendapatkan tiga angkatan yang nantinya mengikuti tahap diklat dan pengimbasan.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal (Dirjen) GTK, Kemendikbud, Iwan Syahril mengatakan tujuan dari program Guru Belajar Seri Masa Pandemi COVID-19 utamanya untuk meningkatkan kompetensi guru dalam merancang PJJ berbasis beban kurikulum yang disederhanakan.

“Guru Belajar juga bertujuan mengembangkan kemampuan guru mengelola PJJ dan meningkatkan skill guru menggunakan teknologi. Guru juga diajak meningkatkan kemampuan melakukan asesmen PJJ supaya kualitas belajar semakin baik,” kata Iwan, di Jakarta, Senin (28/9).

Iwan juga mengatakan syarat peserta pun sangat terbuka. “Program ini dapat diikuti semua guru semua mata pelajaran pada seluruh jenjang dan jenis pendidikan yang telah mempunyai akun Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (SIMKB),” kata Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) GTK, Nunuk Suryani pada kesempatan yang sama.

Penelitian UNESCO mengungkapkan, sebanyak 90% atau setara 1,3 miliar siswa di dunia terpaksa belajar dari rumah karena wabah COVID-19. Data Kemendikbud mencatat, di Indonesia ada 96,6% siswa yang belajar dari rumah. Sebanyak 86,6% siswa Indonesia belajar di rumah dengan mengerjakan tugas dari guru. Pembelajaran yang interaktif, hanya berhasil dilakukan oleh 38,8% populasi.

Iwan juga menyoroti guru-guru kesulitan melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). “Sebanyak 53,55% guru kesulitan mengelola kelas selama PJJ, dan 49,24% guru terhambat melaksanakan asesmen PJJ. Guru juga sulit menggunakan teknologi selama PJJ, dengan jumlah 48,45%,” ungkapnya. Biaya komunikasi digital juga menjadi beban bagi guru. Rata-rata guru menghabiskan Rp 190 ribu untuk membeli kuota internet dan pulsa. Kabar baiknya, 89,1% orangtua terlibat mendampingi anak belajar dari rumah.

Lebih lanjut Nunuk Suryani mengatakan bahwa para guru perlu punya bekal yang cukup baik secara pedagogi maupun teknologi untuk mengajar secara jarak jauh. “Itulah sebabnya Ditjen GTK meluncurkan kembali program ini. Kemendikbud selalu berusaha membantu mutu pengajaran guru mengajar dengan tetap bermutu pada kondisi darurat seperti sekarang ini,” ujar Nunuk.

Tahap pertama Program Guru Belajar adalah Bimbingan Teknis (Bimtek). Pada tahap ini peserta akan mempelajari konsep PJJ, kurikulum kondisi khusus, asesmen diagnostik, model PJJ, serta penggunaan teknologi dan sumber belajar.

Tahap kedua, peserta diikutsertakan dalam h Pendidikan dan Latihan (Diklat). Diklat diikuti oleh peserta yang telah lulus tahap pertama dengan skor minimal 70. Pada tahap kedua, peserta ditantang merancang, melakukan, dan merefleksikan PJJ.

Tahap ketiga adalah Tahap Pengimbasan, yang diikuti peserta yang telah lulus tahap kedua. Pada tahap akhir ini, guru diundang menjadi bagian perubahan pendidikan dengan mengajak guru lain mengikuti “Guru Belajar Seri Masa Pandemi” melalui Penilaian Kinerja Guru (PKG), Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Program Guru Belajar memiliki sejumlah kelebihan. Program ini fleksibel di mana guru dapat mengatur belajar secara mandiri. Selain itu, guru mudah mempelajari konten yang sudah diuraikan dalam unit-unit belajar. Guru pun dapat memilih tantangan sesuai kemampuan dan dapat berkolaborasi dengan guru-guru lainnya.

Iwan juga menyatakan program ini sangat bermanfaat karena materinya disesuaikan dengan kebutuhan masa pandemi. “Guru juga bisa bertukar pikiran dan pengalaman dengan rekan-rekan lain. Guru juga otonom dalam merancang, melakukan, dan merefleksikan PJJ,” jelas Iwan. Selain itu, para guru yang mengikuti pelatihan akan mendapatkan sertifikat bimtek 32 Jam Pertemuan (JP), sertifikat diklat 32 JP, dan piagam penghargaan.

Sebelumnya, program ini telah diujicobakan kepada 984 guru yang terdiri dari 208 Guru PAUD, 257 Guru SD, 261 Guru SMP, serta 258 Guru SMA dan SMK. Informasi lebih lanjut dapat mengakses laman resmi: gurubelajar.kemdikbud.go.id.

Beberapa waktu lalu, Kemendikbud telah meluncurkan portal digital Guru Berbagi (guruberbagi.kemdikbud.go.id). Melalui portal ini, para guru dan praktisi pendidikan dapat saling berbagi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), artikel-artikel edukatif, dan bahan-bahan belajar. Bahan dapat diakses secara gratis mulai dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK dan Sekolah Luar Biasa (SLB).

Portal Guru Berbagi telah diakses 41.572.183 pengguna dan sebanyak 10.264.025 RPP telah diunduh dan dimanfaatkan oleh guru-guru di seluruh Indonesia. Hal ini merupakan langkah Kemendikbud menjawab tantangan pembelajaran masa pandemi, khususnya meringankan beban guru dan praktisi pendidikan.

Platform Guru Berbagi tak hanya bermanfaat untuk saling bertukar RPP dan mencari bahan, para guru pun dapat bertukar pikiran dan menulis artikel refleksi pada situs ini. Sebanyak 3.317 artikel refleksi pembelajaran para guru telah dimuat. Ditjen GTK juga telah meluncurkan seri Webinar Guru Belajar pada 29 Juni s.d. 30 Juli 2020 yang diikuti puluhan ribu guru dan tenaga kependidikan, untuk membantu guru mempersiapkan tahun ajaran baru. (Arif. B/Lydia/Denty.A)

siaran pers kemendikbud ri