Majukan Pendidikan Bahasa, SEAMEO QITEP Dorong Pendidik Manfaatkan Teknologi Informasi

Suarapendidikan.com – Pendidikan bahasa di Era Revolusi Industri 4.0 harus menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan memahami dan mengevaluasi isu-isu yang saling berhubungan pada kehidupan nyata. Merespon tuntutan global pada pembelajaran bahasa, Southeast Asia Ministers of Education Organization menggelar “The Eleventh Annual International Symposium of Foreign Language Learning” (The 11th AISOFOLL). Kegiatan ini mengusung tema “Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Melalui Pendidikan Bahasa” pada 6 s.d. 7 Oktober 2020 secara dalam jaringan (daring). 

Direktur QITEP Dr. Luh Anik Mayani memaparkan, SiPEBI (Aplikasi Penyuntingan Ejaan Bahasa Indonesia) adalah suatu aplikasi digital pemeriksaan ejaan buatan Indonesia yang tengah dikembangkan. Tujuannya adalah untuk menjawab tantangan revolusi industri dan pesatnya perkembangan teknologi informasi bagi penggunaan dan perkembangan Bahasa Indonesia baik di tanah air dan di luar negeri.

“SiPEBI adalah inovasi relevan dengan revolusi industri 4.0. Lewat SiPEBI, kita bisa mengembangkan Bahasa Indonesia dengan bantuan teknologi digital, dan harapannya bisa meningkatkan kompetensi Bahasa Indonesia tertulis,” ungkapnya (7/10).  

SiPEBI dirancang untuk membantu pengguna mencari, memahami, dan memakai ejaan dan tata bahasa yang benar. SiPEBI bisa engedit atau mengoreksi teks serta memberikan analisis kesalahan tata bahasa atau ejaan pengguna.

“Kami ingin fitur analisis ini mendorong penutur Bahasa Indonesia meningkatkan kemampuannya,” kata Anik. SiPEBI juga mampu memfasilitasi, mempercepat, dan mengasistensi penyuntingan (editing), memperkecil kesalahan Bahasa Indonesia tertulis, dan penutur Bahasa Indonesia bisa menjadi editor bahasa mandiri.

Pembelajaran berbasis teknologi tak hanya mementingkan aplikasi. Anik menekankan bahwa guru tetap berperan penting dalam proses pembelajaran. “Pertama, guru adalah desainer pembelajaran dengan tentunya memanfaatkan teknologi. Kedua, guru adalah fasilitator yang membimbing proses belajar siswa. Ketiga, guru adala fasilitator yang bisa memberikan umpan balik dan perbaikan bagi siswa,” ungkapnya. 

Pembicara kunci dari  Nanyang Technological University, Singapura, Prof. Choo Shen Li Suzanne dalam pidato secara daring menyatakan, “Pendidikan bahasa harus memberdayakan siswa dengan kemampuan kritis, estetis, dan etis. Maka, kurikulum, pedagogi dan bacaan kita harus menyediakan kesempatan buat siswa mengeksplorasi isu-isu global dan menumbuhkan empati mereka pada orang lain di dunia ini.” 

Ditambahkan Prof. Didi Suherdi dari Universitas Pendidikan Indonesia, metode pendidikan bahasa harus kreatif dan guru didorong menggunakan teknologi digital. Guru-guru bisa mencoba bernyanyi bersama para siswa untuk membuat belajar jadi menyenangkan. “Tidak perlu buru-buru, kita harus strategis. Kalau anak-anak percaya dengan kita, maka belajar mengajar akan menyenangkan. Kalau siswa sudah termotivasi, mereka tidak akan masalah dengan waktu. Para guru harus go the extra miles. Make learning fun. I call it ‘edu-entertainment’”. 

Acara ini turut mengundang berbagai pendidik menyajikan paparan hasil penelitian, praktek baik, maupun gagasan tentang isu-isu terkini dalam pendidikan bahasa. Guru SMPN 1 Martapura Kalimantan Selatan Gusti Wildayani memaparkan pengalamannya memotivasi dan berkolaborasi dengan siswa menggunakan permainan. “Saya berharap para guru mau berkreasi membuat permainan, sehingga mengajar menjadi menyenangkan dan dapat dinikmati siswa. Permainan edukatif bisa meningkatkan motivasi belajar siswa,” tuturnya, senada dengan yang disampaikan Didi. 

Pada kesempatan ini, Guru MTsN 6 Kediri Jawa Timur, Yunalia Anugraheny, membagikan pengalaman. Ia menjelaskan bagaimana para siswa kelas 7 membuat glosarium digital dalam bentuk aplikasi android untukk membangun pembelajaran mandiri. “Siswa jadi mendapat pengalaman baru, bekerjasama dengan sesama teman, berkreasi sembari membangun literasi teknologi,” jelas Yunalia. 

Guru SMP Negeri 1 Mauponggo Satap, Nusa Tenggara Timur Muttahidah turut menceritakan penerapan HOTS untuk belajar Bahasa Inggris menggunakan permainan Papan Ludo. Menurut Muttahidah, permainan ini membantu siswa aktif dan antusias belajar, apalagi sekolahnya berada di daerah 3T. Para siswa harus membangun permainan ini secara manual dan mengonstruksikan sistem teknis permainan, di mana kemampuan motorik, logika, keseimbangan siswa juga terbina. 

Simposium ini rutin dilangsungkan di bawah Regional Centre for Quality Improvement For Teachers and Education Personnel (QITEP) in Language (SEAQIL) dan dihadiri ratusan tenaga pendidik, ahli, dan pemerhati pendidikan dan merupakan bagian komitmen SEAQIL meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan bidang bahasa, terutama bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, Mandarin, dan BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Informasi lebih lanjut tentang SEAMEO QITEP terdapat pada qiteplanguage.org. (Lydia/Denty /NR)