Merawat Ludruk Ala Kirun

Suarapendidikan.com, Jombang – Dalam rangka menanamkan nilai-nilai karakter cinta budaya bagi generasi muda, STKIP PGRI Jombang gelar Kuliah Pakar dan Nyantrik Budaya “Ludruk” bersama Maestro Lawak Indonesia (Abah Kirun) pada Senin pagi (24/2).

Acara tersebut digelar di Gazebo Utama STKIP PGRI Jombang yang dihadiri 200 peserta yang terdiri dari dosen, pelajar dan mahasiswa. Para peserta yang hadir bukan hanya dari Jombang saja, melainkan dari berbagai Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Timur. Seperti dari Kota Kediri, Mojokerto, Malang dan Surabaya.

Kirun selaku narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa menanamkan karakter cinta budaya bagi generasi muda sangatlah penting. Menurutnya, generasi muda sekarang banyak yang mengikuti budaya luar, sehingga kearifan lokal seperti Ludruk terabaikan.

“Saya membuka pintu bagi siapa saja yang mau belajar kesenian, khususnya anak-anak muda. Karena di zaman modern seperti sekarang ini jangan sampai kesenian khususnya Ludruk tidak ada yang melestarikan. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi,” kata Kirun.

Ia juga menyampaikan bahwa Jombang identik dengan kesenian Ludruknya. Oleh karena itu ia mengapresiasi jika ada generasi muda yang menyelenggarakan acara seperti ini. Menurutnya kegiatan seperti ini merupakan bukti bahwa generasi muda Jawa Timur khususnya Jombang, masih peduli dengan kesenian khas Ludruk. Ludruk juga banyak menyimpan nilai-nilai budaya yang harus tetap dijaga dan dikembangkan sebagai benteng dan lambang identitas bangsa Indonesia yang membedakan dengan budaya barat.

“Pelestarian, pengembangan, dan pemasaran adalah kunci agar seni budaya khas Jawa Timur ini tidak terabaikan,” ungkap Kirun.

Ia mencontohkan hal tersebut bisa dilakukan dengan cara, menyelenggarakan Festival Ludruk yang dikemas dengan kreatif dan inovatif yang sesuai dengan perkembangan zaman. Bahkan ia juga menyarankan agar memanfaatkan media sosial (medsos) untuk pemasaran. Sehingga generasi muda sekarang tidak memandang sebuah karya seni Ludruk sebagai kesenian kuno (jadul).

“Banyak orang luar negeri yang belajar tentang kesenian daerah, kenapa kita pemilik kesenian ini enggan untuk mempelajari dan melestarikannya?,” ujarnya.

Ketua Pelaksana dan Penanggungjawab kegiatan Banu Wicaksono menuturkan bahwa kegiatan yang digawangi UKM Karawitan tersebut merupakan wujud kepedulian terhadap budaya. Menurutnya, sebagai generasi muda tentunya harus bisa mempelajari dan melestarikan budaya daerah khusunya Ludruk. Hal tersebut perlu dilakukan karena kesenian daerah merupakan identitas yang perlu untuk di gaungkan.

“Kegiatan ini sebagai salah satu upaya pengembangan dan uri-uri budaya yang memang sekarang sudah mulai ditinggalkan,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa STKIP PGRI Jombang mendapatkan kesempatan untuk Nyantrik Bareng di Padepokan Abah Kirun.

Salah satu peserta, Mohammad Faisal Roqim mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika STKIP PGRI Jombang mengungkapkan bahwa kesenangannya terhadap kesenian daerah khususnya Ludruk membuatnya mengikuti kuliah tersebut. Menurut Faisal, generasi muda sudah sepatutnya ikut melestarikan kesenian daerah.

“Sebagai kaula muda jangan malu belajar budaya khususnya kesenian daerah. Semangatlah belajar, karena budaya adalah jati diri kita, tanpa budaya maka tidak akan terbentuk generasi seperti sekarang,” pungkasnya. (WG/NR)