Pandemi Covid-19, Perusahaan Otobus (PO) Rugi Ratusan Juta Rupiah

Suarapendidikan.com, Jombang – Penutupan obyek wisata dan imbauan untuk tidak ke tempat keramaian demi mencegah penyebaran corona (covid-19) membuat Perusahaan Otobus (PO) pariwisata mengandangkan armadanya. Padahal, momen sebelum datangnya Ramadhan merupakan waktunya para pemilik perusahaan otobus panen rezeki.

Pemilik PO terpaksa mengandangkan armadanya karena berbagai acara keluar kota dibatalkan. Permasalahan tak berhenti di situ saja, bayang-bayang setoran cicilan ke perusahaan leasing juga menghantui para pemilik PO ini.

Fika Andari Pemilik PO Tirto Agung Jombang mengatakan kepada redaksi Suarapendidikan.com pihaknya terpaksa membatalkan keberangkatan wisata baik religi, edukasi, maupun wisata alam.

“Dari 70 jadwal keberangkatan sejak maret hingga Juni mendatang sebagian besar re scedule dan ada beberapa yang cancel, dengan alasan yang sama karena wabah Covid-19,” terang wanita muda asli Jombang ini.

Salah satu Perusahaan Otobus (PO) di Jombang ini memiliki 8 unit Bus Besar, memiliki kurang lebih 30 karyawan mulai dari sopir, kernet, mekanik dan tenaga administratif. Meski perusahaan ini merupakan bisnis keluarga namun tak dipungkiri kerugian akibat Covid-19 ini cukup terasa.

Fika Menambahkan sejak bus berhenti beroperasi sopir dirumahkan sementara, kernet dan mekanik tetap masuk seperti biasa untuk perawatan, dengan pola itu sopir yang harusnya mendapatkan penghasilan dari setiap perjalanannya terpaksa tak berpenghasilan lagi.

“Dari perusahaan ada mekanisme pemberian pinjaman sesuai kebutuhan karyawan khususnya para sopir yang terdampak Covid-19 ini. Dengan pola ini kita berupaya agar ekonomi karyawan kita tetap stabil,” papar Fika.

Dari 70 jadwal perjalanan yang tertunda kerugian mencapai rata-rata 320 jutaan. Kerugian ini yang tercatat hanya pada satu PO belum lagi PO yang lain di Jombang. Dampak ekonomi ini juga turut dirasakan oleh pedagang di area wisata yang automatis sepi pengunjung.

“Alhamduilah sopir kami yang berhenti sudah terdata oleh dinas perhubungan yang rencananya akan mendapat bantuan sebagai pekerja yang terdampak langsung wabah ini, namun untuk kernet masih belum masuk data. Bank juga sudah cukup berperan dalam upaya relaxasi pinjaman,”Pungkasnya.

Harapanya pemerintah daerah segera mengambil langkah untuk mengatasi dampak ekonomi ini, Tidak hanya pada perusahaan saja akan tetapi bagi pedagang disekitar tempat wisata yang terdampak cukup signifikan. (AM/NR)